Friday, February 15, 2013


Rusia Hibahkan Peluru Kendali kepada Suriah


(IMP) -- Suriah dikabarkan menerima sistem pertahanan udara, yakni peluru kendaliantipesawat dan Panzer-C1 pada awal tahun ini.

Kabar itu dibocorkan salah seorang sumber militer Rusia. Ia mengatakan sistem pertahanan udara yang diberikan Rusia sesuai dengan kontrak yang ditandatangani antara kedua negara. Sistem pertahanan udara itu dikirim ke Suriah melalui laut.

Anatoly Isaykin, Direktur Kantor Rosoboronexport Rusia, menekankan kerja sama teknik militer dengan Suriah tersebut dilakukan berdasarkan hukum internasional, yang mengindikasikan negaranya mengekspor sistem pertahanan udara ke Suriah sesuai dengan kontrak yang ditandatangani.

Sistem pertahanan udara Panzer-C1 sangat akurat dan bisa menargetkan semua serangan udara saat ini dan masa depan serta tersedia dengan ketinggian 20 kilo meter.

Kecepatan setiap rudal mencapai 1300 meter per detik, karenanya sistem memungkinkan untuk mennyerang empat target sekaligus.

Sistem persenjataan itu juga bisa mencapai target darat dan laut, serta mengarahkan tembakannya dari situs bergerak dan tertentu.

Saturday, February 9, 2013


TNI AU Bentuk Skadron UAV

Heron UAV


PDFPrint

JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemhan) menganggarkan sekitar USD 16 juta untuk pembelian pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Herryanto mengatakan, untuk 2011 direncanakan akan dilakukan pembelian sejumlah pesawat tanpa awak. Dana untuk pembelian tersebut diambil dari anggaran tambahan untuk memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) senilai Rp 2 triliun pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011.

Namun, dia belum bisa memastikan pesawatpesawat tersebut akan didatangkan dari negara mana. “Untuk sejumlah pembelian alutsista, kita akan menggunakan anggaran tambahan Rp 2 triliun,” ujarnya di Jakarta kemarin. Selain itu, lanjut Eris, tambahan anggaran tersebut juga akan dibelanjakan untuk persenjataan pesawat tempur Sukhoi dan sejumlah helikopter dari Rusia.

Seperti diketahui,TNI Angkatan Udara akan menambah satu skuadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, untuk memperkuat kemampuan pemantauan, termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat. Pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis dan dapat dioperasikan dari jarak jauh.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat pernah menyatakan, untuk menampung pesawat- pesawat tersebut, status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1.Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Helmi Fauzy mengatakan, prinsipnya Komisi I menyetujui sejumlah pembelian alutsista yang diusulkan Kemhan dan TNI.

“Untuk pembelian pesawat tanpa awak dan sejumlah persenjataan lain prinsipnya disetujui,” ujarnya.Namun, lanjut Helmi,Komisi I mempertanyakan pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari Garuda Indonesia. Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Fayakhun Andriadi menambahkan, pihaknya mempertanyakan serah terima pesawat tersebut.
Menurutnya, proses pembelian tersebut telah melanggar prosedur.“DPR belum memberikan persetujuan atas proses pembelian tersebut,” katanya.
Seharusnya,dengan anggaran yang tersedia,TNI AU dapat membeli pesawat baru yang pemeliharaannya jauh lebih mudah dan murah ketimbang membeli pesawat bekas dari maskapai penerbangan.
”Sebaiknya beli baru. Apalagi untuk VVIP. Satu bisa sekelas 737, satunya lagi pesawat yang bisa mendarat di mana-mana,misalnya CN235 yang bisa (dibuat) di dalam negeri oleh PT Dirgantara Indonesia,”ujarnya

Kemajuan industri dalam negeri!


 February 7, 2013

PT.DI Siap Melahirkan Kembali "The New N-250"

Vote · Comment · Send · 


JAKARTA:(IMP) - PT Dirgantara Indonesia (DI) (Pesero) siap melahirkan kembali pesawat N-250 atau 'The New N-250' peninggalan BJ Habibie. Pesawat komersial yang terhenti pengembangannya sejak 1998 ini, dalam waktu enam bulan ke depan akan diputuskan kelanjutan atau masa depan pengembangannya.

Dirut PT DI, Budi Santoso menjelaskan, tahap awal pihaknya akan melakukan riset atau studi pasar mengenai prospek pesawat bermesin turboprop ini di mata industri penerbangan internasional.

"Kita sedang buat studi pasarnya. Apakah mau pakai desain yang lalu atau ada perubahan di N-250," ujar Budi kepada detikFinance, Selasa (5/2/2013).

Menurutnya, paling cepat 6 bulan ke depan hasil studi pesawat yang telah dikembangkan sejak akhir 1980-an ini mucul. Budi menjelaskan, The New N-250 ini siap masuk ke pasar penumpang berkapasitas 70 sampai 80 penumpang yakni di bawah pesawat jet komersial berpenumpang 100 orang dan di atas pesawat bermesin propeler (baling-baling) berpenumpang 50 orang.

"Market yang ada, 70 sampai 80 penumpang, jadi PT DI jangan sampai salah masuk," sebutnya.

Saingan terberat The New N-250 nantinya adalah pesawat pabrikan asal Eropa yakni Bombardier Q-400 dengan kapasitas 80 penumpang.

"Tapi dari desain kita lebih baik dari Bombardier Q-400," cetusnya.(feb/dru)


Lanjutkan Pesawat N-250 Besutan Habibie, PT DI Butuh Rp 9,6 Triliun

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) berencana membangkitkan kembali pesawat N-250 peninggalan BJ Habibie. Untuk bisa terbang dan diproduksi massal, BUMN penerbangan ini membutuhkan dana US$ 1 miliar atau Rp 9,6 triliun.

Dana ini digunakan untuk proses pengembangan ulang hingga menjadi pesawat baru siap produksi.

"Untuk melanjutkan N-250 sampai tersertifikasi dan diproduksi menghabiskan US$ 1 miliar," tutur Direktur Utama PT DI Budi Santoso kepada detikFinance, Selasa (5/2/2013).

Mahalnya biaya untuk melahirkan The New N-250 membuat Dirgantara Indonesia harus betul-betul melakukan studi tentang pangsa pasar dari pesawat yang berhenti dikembangkan sejak 1998 ini.

Selain itu, Budi mengaku BUMN ini tidak bisa berdiri sendiri untuk mendukung pembiayaan The New N-250, sehingga membutuhkan dukungan pendanaan dari pemerintah dan investor.

"Kita belum berani (produksi lagi) sampai kita meyakini. Kita sedang buat studi pasarnya. PT DI jangan sampai salah, kalau salah kita habiskan US$ 1 miliar untuk bikin," tambahnya.

Nantinya, ketika hasil studi pasar dalam waktu 6 bulan ke depan menunjukkan pesawat N-250 layak dilanjutkan, Budi menjelaskan pada pesawat The N-250 akan terjadi perombakan terhadap mesin dan onderdil pesawat. Hal ini dilakukan karena ada beberapa komponen yang sudah diproduksi lagi.

"Sertifikasi harus diulang dan akan diganti, mesin ganti, kalau mesin (N-250 versi lama) sekarang konsumen terbesarnya militer," sebutnya.

The New N-250 nantinya 60% komponennya berasal dari impor, dan sisanya diproduksi di dalam negeri. Namun desain pesawat, 100% dirancang oleh Dirgantara Indonesia.

"Mungkin 50-60% harus dibeli dari luar seperti mesin dan lain-lain," pungkasnya. 

Friday, February 8, 2013


CHINA BELI PESAWAT BOMBER TU-22 DARI RUSIA

PESAWAT BOMBER TU-22 DARI RUSIA


Pesawat bomber Rusia Tupolev Tu-22M3. Foto: Alex Beltyukov/Wiki


Untuk ketiga kalinya dalam 7 tahun (pertama di 2005, kedua pada awal 2012) beberapa situs di China (link dalam bahasa China) melaporkan bahwa China dan Rusia telah sepakat untuk Beijing membeli lini produksi pesawat bomber Tupolev Tu-22M3 dengan biaya 1,5 miliar USD.
Saat dalam pelayanan dengan Angkatan Udara China nanti, Tu-22M3 akan dikenal sebagai "H-10." Total kesepakatan untuk pembelian Tu-22M3 adalah 36 pesawat, yang terdiri dari 12 pesawat pada batch awal dan 24 pesawat pada batch kedua yang diperkirakan sudah di order oleh Beijing.

Tu-22 akan berperan sebagai pesawat serang maritim dan akan digunakan untuk menyerang target dari ketinggian yang rendah (untuk menghindari deteksi radar).

Tu-22 adalah pesawat bomber supersonik buatan Uni Soviet, dengan swing-wing (sayap ayun) dan merupakan bomber strategis jarak jauh dan penyerang maritim. Bomber ini dikembangkan Soviet selama Perang Dingin dan saat itu Tu-22 merupakan yang tercanggih untuk kearah teknologi pesawat bomber siluman.


Swing Wing pada Tupolev Tu-22M3, sayap unswept untuk terbang di kecepatan rendah dan sayap swept untuk terbang di kecepatan tinggi. Foto: Vector Site/Wiki


Dengan jarak tempuh 6.800 kilometer dan payload 24.000 kg, Tu-22 masih merupakan ancaman serius untuk banyak sistem senjata generasi terbaru saat ini. Apalagi jika kesepakatan dengan Rusia juga meliputi Raduga Kh-22 (AS-4 'Kitchen'), rudal anti-kapal jarak jauh.

Kesepakatan pembelian ini bisa menimbulkan perubahan yang signifikan pada keseimbangan strategis di wilayah tersebut.

Bomber Tu-22 bisa dijadikan China sebagai alat untuk "melumpuhkan" intimidasi-intimidasi di Laut China Selatan dan teater Pasifik yang dikomandoi Amerika Serikat. Tu-22 merupakan sebuah platform yang cepat untuk meluncurkan rudal jelajah, senjata konvensioanal atau nuklir dalam berbagai skenario perang regional.

Dengan kata lain, ini merupakan ancaman baru bagi armada Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.


Karakteristik dan Spesifikasi Tupolev Tu-22M3

Karakteristik Umum

Kru 
4 (pilot, co-pilot, navigator dan operator sistem senjata)

Panjang 
42,4 m

Rentang sayap 
Spread (20° sweep): 34.28 m
Swept (65° sweep): 23.30 m

Tinggi 
11,05 m

Luas sayap 
Spread: 183.6 m²
Swept: 175.8 m²

Berat kosong 
54.000 kg

Maksimum berat take-off 
126.400 kg

Mesin 
2 × Kuznetsov NK-25 turbofans, 245.2 kN

Performa

Kecepatan maksimum 
1,88 mach (2.000km/jam)

Jangkauan 
6.800 km

Radius tempur 
2.410 km

Service ceiling 
13.300 m

Tingkat daki (rate of climb) 
15 m/detik

Persenjataan

Senjata : 1 × 23 mm GSh-23 cannon dengan remote kontrol

Hardpoint (tenggekan) : wing dan fuselage pylons dan internal weapons bay dengan kapasitas 24.000 kg

Hingga 3 × rudal Raduga Kh-22di weapons bay dan di wing pylons atau

Enam rudal di MKU-6-1 rotary launcher di bomb bay, plus empat rudal di dua underwing pylons, dengan total 10 rudal per pesawat

Bom freefall : 69 × FAB-250 atau 8 × FAB-1500 (tergantung tipe)

Rudal jelajah jarak jauh Kh-55 juga pernah diuji coba pada Tu-22 namun tidak digunakan dalam service


airlifter strategis Y-20 buatan China



Y-20 (Foto:shephardmedia.com) 

(ARTILERI/AVIC2) - Setelah kesuksesan terbang perdana dari Y-20, pesawat udara transportasi militer kelas berat yang dikembangkan dalam negeri China, pada 26 Januari lalu media lokal China telah mengungkapkan rincian lebih lanjut dari proyek pesawat bongsor ini.

Pengembangan dari airlifter strategis Y-20 akan meningkatkan jangkauan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dan sebagai alat diplomatik yang kuat. Pesawat ini dikembangkan oleh Industri Pesawat Terbang Xi'an, anak perusahaan dari Aviation Industry Corporation of China, yang notabene sebagai produsen utama pesawat militer negara itu.

Y-20 dioperasikan oleh 3 awak dan muatan maksimum 66 metrik ton, serta berat lepas landas maksimum melebihi 200 ton. Dengan payload yang tinggi tersebut, artinya Y-20 mampu membawa MBT (Tank Tempur Utama) terberat PLA, yaitu Tipe-99A2 yang berbobot 58 ton.

Panjang pesawat ini 47 meter dan memiliki wingspan (rentang sayap) 50 meter, kata laporan itu.


Y-20 (Foto:aviationweek.com

Sumber-sumber lokal mengatakan Y-20 mulai dibangun pada awal 1990-an dan pada tahun 2006 telah masuk dalam rencana pembangunan teknologi jangka menengah dan jangka panjang. Foto dari Y-20 mulai beredar di situs-situs militer China pada tanggal 24 Desember tahun lalu, yang mengarah ke spekulasi bahwa pesawat itu akan segera melakukan uji coba terbang.(FS)


AT-9 Spiral-2 : Rudal Pelibas Tank Milik Penerbad TNI AD
Posted on 01/05/2012 | 9 Comments 


Heli tempur Mi-35

Tanpa pemberitaan yang berlebih, kedatangan armada helikopter tempur Mi-35P dari Rusia yang melengkapi Skadron 31/Serbu Penerbad pada tahun 2010, nyatanya juga membawa angin segar untuk lini rudal anti tank di Tanah Air. Mi-35P yang juga dikenal sebagai APC terbang, karena kemampuannya membawa 8 pasukan bersenjata lengkap, hadir melengkapi Skadron 31 dengan etalase persenjataan yang cukup garang, seperti roket S-8 kaliber 80mm, pelontar chaff/flare, kanon standar GSh-30-2 kaliber 30mm, dan sosok rudal AT-9 Spiral-2.

Seperti halnya identitas penamaan pada rudal AT-5, identitas AT-9 juga merupakan penamaan yang diberikan oleh pihak NATO. Nama asli rudal ini adalah 9M120 Ataka, dibuat oleh KBP Instrument Design Bureau, manufaktur alutista dari Rusia. Meski kodratnya sebagai rudal pelibas tank, tapi ada kekhususan pada AT-9, yakni rudal ini sengaja dirancang untuk platform peluncuran dari udara.

AT-9 terbilang rudal yang belum berusia terlalu tua, Uni Soviet sendiri baru mulai mengoperasikan rudal ini pada tahun 1990-an. Desain AT-9 merupakan pengembangan dari versi sebelumnya, AT-6 Spiral, dengan penyempurnaan pada sisi akurasi, kecepatan, dan jangkauan. Rudal ini menganut sistem pemandu SACLOS (Semi Automatic Command to Line of Sight), dimana operator harus membidik target sampai rudal berhasil mengenai target, jalur kendalinya berupa sinyal radio. Dalam pola pengoperasiannya, pilot dan juru tembak harus sama-sama mengarahkan helikopter ke arah target hingga rudal tepat tiba di sasaran. Ada rumor yang menyebutkan, versi AT-9 ada yang dirancang dengan pemandu laser, menjadikan AT-9 dapat dioperasikan secara fire and forget.


Rudal AT-9 terpasang pada sayap heli Mi-35P Penerbad


Rudal AT-9 milik Penerbad dalam sebuah display

Ada tiga jenis AT-9 yang dioperasikan untuk menghajar spesifik target, pertama anti lapis baja dengan tandem HEAT (High Explosive Anti Tank), yakni AT-9 yang dilengkapi proyektil peledak dengan dua tahap detonasi, tandem HEAT memang dipersiapkan untuk menghancurkan kendaraan berlapis baja, termasuk MBT (main battle tank). Kedua adalah jenis 9M120F, pada jenis ini AT-9 dilengkapi dengan hulu ledak thermobaric, pada thermobaric peledak akan menghasilkan gelombang ledakan dengan durasi yang lebih lama, pola ini juga dikenal dengan sebutan “air fuel bomb” yang ditargetkan untuk memanggang pasukan infantri, sehingga dapat mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar. Thermobaric mengandalkan oksigen dan udara untuk pengoperasiannya, dan sangat pas untuk menghajar target infantri yang bersembunyi di dalam terowongan, gua, atau bunker.


Spesifikasi AT-9
Berat keseluruhan : 49 Kg
Berat hulu ledak : 7,4 Kg
Panjang : 1,83 Meter
Diameter : 13 Cm
Sistem Peluncuran : SACLOS (Semi-Automatic Command to Line of Sight)
Moda Peluncuran : air launcher
Lebar sayap : 36 Cm
Jarak Jangkau : 400 meter sampai 6 Km
Kecepatan : 550 meter per detik


Nysa P-30 B/C : Generasi Awal Radar Pertahanan Udara di Indonesia
Posted on 03/11/2012 



Jauh-jauh hari sebelum hadirnya radar berkualifikasi mobile macam Thomson TRS2215 yang dimiliki TNI AU dan radar Giraffe milik Arhanud TNI AD, di awal tahun 60-an, tepatnya pada masa kampanye operasi Trikora, Indonesia juga telah menggunakan radar pendeteksi dini yang cukup maju pada jamannya. Radar yang dimaksud adalah Nysa P-30 B/C buatan Polandia.

Radar mobile yang dapat dipindah-pindahkan dengan platform trailer ini dipersiapkan untuk mendukung Komanda Pertahanan Udara Gabungan (Kohanudgab) (sekarang Kohanudnas-red) sebagai unsur penting dari Komanda Mandala yang dipimpin Mayjen Soeharto. Proyeksi penempatan radar ini tak lain untuk digelar pada daerah perbatasan. Komando Mandala ingin menempatkan peralatan pengindera itu secepatnya di front dan langsung dioperasikan. Satu unit ditempatkan di Sangwo, Morotai, satu unit lagi di Pulau Saparua, satu unit ditempatkan di Pangkalan Udara Langgur, dan satu unit lagi di Bula, Seram Timur. Dimana kesemua lokasi tersebut merupakan pangkalan aju yang langsung berhadapan dengan kekuatan militer Belanda di Irian Jaya.

Dalam gelar operasinya, Nysa P-30 ditarik oleh truk yang dikirimkan ke perbatasan melalui kapal-kapal LST (landing ship tank). Dari segi fungsionalitas, Nysa P-30 berperan sebagai ground control interception/early warning (GCI/EW) atau pusat kendali dan peringatan dini dengan jarak tangkap hingga radius 450 km. Radar ini juga dimanafaatkan untuk menuntun jet tempur AURI menuju sasaran udara. Sistem radar ini mempunyai dua antena, yakni Nysa B dan Nysa C, masing-masing untuk mengukur ketinggian dan jarak dan pencegahan serangan elektronik (jamming) dari lawan.

Meski mudah digelar, radar ini punya kelemahan, dimana Nysa hanya mampu mendeteksi sasaran-sasaran yang terbang menengah atau tinggi. Bila sasaran terbang rendah (low level flying) maka bisa lolos dari deteksi. Dengan kemampuan deteksi obyek yang terbang tinggi, maka radar inilah yang berhasil mengendus keberadaan pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady yang tengah melintas di atas Teluk Jakarta. Nysa juga lah yang membuat rudal SAM (surface to air missile) SA-2 TNI AU punya kinerja yang benar-benar menggetarkan NATO.

Untungnya pada masa Trikora, radar hanud milik Belanda juga punya spesifikasin yang sama, dimana juga tidak dapat mendeteksi obyek yang terbang rendah. Hal ini juga kerap dimanfaatkan sebagai peluang oleh para penerbang tempur dan transport C-130 AURI dalam tugas-tugas inflitrasi.



Nysa P-30 punya peran yang sangat besar dalam masa Trikora, radar ini berperan besar dalam mengendalikan pesawat-pesawat AURI, baik yang sedang melakukan penerjunan pasukan maupun yang sedang melakukan patrol udara. Terbukti tidak pernah ada lagi pesawat penerjun yang bisa dijatuhkan oleh Belanda. Secara keseluruhan, radar ini dioperasikan bersama-sama jet tempur MiG-17, P-51 Mustang, B-25 Mistchel, dan B-26 Invader. Di darat, radar ini memandu kanon-kanon penangkis serangan udara dari berbagai kaliber.


Setelah Nysa pensiun, radar hanud mobile TNI AU menggunakan jenis Thomson TRS buatan Perancis

Ditilik dari sejarahnya, Nysa P-30 sudah hadir di Indonesia sejak 1959, selain pada tahun 1962-1963 digelar dalam opeasi Trikora, pada tahun 1963 – 1966 radar ini juga dipersiapkan dalam mendukung operasi Dwikora. Pengabdian radar ini terbilang panjang, disebutkan baru pada tahun 1982 radar buatan Polandia ini mulai digantikan oleh radar mobile buatan Perancis yang lebih mutakhir. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Nysa P-30 B/C
Negara asal         : Polandia
Tipe                       : NB/Height finder
Jenis                      : Mobile radar
Berat                      : 5.000 kg
Diameter antena    : 440 cm
Tinggi kabin        : 185 cm
Daya             : 800 kw
Pulse width        : 1 micro SLc
PRF            : 200
GA               : 28 dB
Ketinggian deteksi max    : 50.000 kaki
Jangkauan         : 450 km